Klise
Pernahkah kau
ada di titik di mana hidupmu begitu teratur, berharap semua akan baik-baik
adanya, namun tetap merasa ada yang hilang?seolah, ada satu kepingan puzzle
yang tak terselesaikan.
Izinkanlah aku
menulis untukmu, tentangmu, meski aku tidak tahu apakah surat ini akan tiba di
sisi ranjang mu, atau hanya terdampar di bentangan ufuk. Izinkanlah aku untuk
mengabadikannya.
Semestaku
sebelum kau datang adalah konstalasi yang sistematis;mengandung stagnasi yang
konservatif. Aku tidak tahu caranya menghargai mentari yang membakar langit
hingga kemerahan. Aku tidak tahu caranya mencium wangi hujan yang membasahi
bumi. Aku tidak paham dimana indahnya kalimat termaktub dalam larik-larik
puisi.
Ketika dalam
kesunyian aku tak tau harus apa. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya
kembali. Masa ini rasanya tidaklah seperti dari apa yang pernah ku dengar dari
orang-orang. Tak ada yang menarik.
Sedangkan malam-malamku
hanya berisi sekumpulan tugas yang harus rela kubagi dengan jam tidur. Dan
pagi-pagiku hanyalah repetisi membosankan untuk mengenyangkan logika. Aku lupa
bahwa bintang pun bernyawa, hutan pun bernapas, dan kita diciptakan untuk
melakukan hal-hal yang lebih besar dari sekedar rutinitas harian. Aku lupa
bahwa kita semua terkoneksi; bahwa cinta sepatutnya menjadi bahan bakar agar
kita tetap melangkah. Garis besarnya, aku lupa caranya menjadi manusia.
Dan kemudian di
balik riuhnya bumi kau datang. Tidak ada yang tahu kau akan menjadi tugas-tugas
ku yang kemudian menjadi lebih penting dibandingkan sebuah ulangan harian.
Hujan tanpa sadarnya menemani kisah kau dan aku di hari rabu itu. Kau menjadi
orang yang berhasil memorak-morandakan jagat rayaku.
Kau tahu? Aku
bahkan tahu cara menjadi seorang detektif di siang hari. Mencoba cari tahu
tentangmu adalah pr-ku. Hingga sebagian akanmu mulai terungkap dan masih saja
ada rasa penasaran yang menggeluti pikiranku.
Kau istimewa!
gerikmu yang menjadikan orang seakan terhipnotis. Jatuh cinta kepadamu rasanya
beda. Kamu memanglah orang yang sangat pendiam dan datar yang sempat aku kenal.
Tapi, jika diminta untuk mencintaimu berkali-kali, akan selalu ku lakukan
dengan senang hati. Telah banyak kujumpai keindahan, dan kamu, salah satu yang
membuatku memuji.
Selalu saja ada
kejut di tiap tatapanmu. Tatap yang mampu menyobek seluruh penjuru di muka
bumi. Seakan menemuimu adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Bait-bait
sajakku menemani harimu. Aku bahkan tak tahu lagi bagaimana cara agar sajakku
kau terima.
Perjumpaan kita telah sampai di penghujung. Aku tidak tahu apakah ada lagi kesempatan untuk melihat senyummu atau hanya sekedar basabasi.
Sedangkan sajak ini adalah
penutup di akhir musim ini dan mungkin juga menjadi akhir dari kisah
hari rabuku. Kita tidak tahu lagi apakah ada kau setelah ini, ataukah aku
sesudah ini. Biarkan semesta menjawabnya. Semogaku di akhir musim ini
terselesaikan. Tak ada lagi nama mu. Seakan kita baru saja memulainya. Hari itu
terulang bagai angin meniup, pergi jauh dan hampa sesudahnya.
Terima kasih
untuk kisah ini. Setelah ini kau akan menjadi apa yang pernah terjadi di waktu
itu. Kini tak ada lagi kejutan setelah mengirimkan surat ini, tapi ku harap kau
membacanya dengan senyuman dan menikmatinya dengan secangkir teh. Dan selamat
tinggal, malam yang pernah dipenuhi senyum, senja pernah menjadi sebuah puisi,
hujan pernah mengantarkan kerinduan, dan mata kita pernah saling bertatapan.
Sekali lagi
terima kasih kau sudah menjadi sebagian dari ceritaku.
Dan juga terima kasih kepada Fiersa Besari dan Boy Candra atas kutipan yang dengan sengaja saya tambahkan dalam surat ini. :)
Komentar
Posting Komentar